Kamis, 06 Juni 2013

Upacara bendera. Nasionalisme atau formalitas paksaan?

Udah lama ya gak ngeblog ? udah lama juga gak nulis. u,u
gak punya tulisan yang bisa di posting jadi kepikiran untuk cari hal hal yang layak untuk di posting [layak dalam sudut pandang mana ini ? -___-]

apa aja yang penting bermamfaat dan untuk menghidupkan kembali blog yang sudah lama mati suri ini :(


Dan aku persembahkan "Tugas PKN ku" [sepenting ngeblog] ^^



Upacara bendera? 
Nasionalisme atau sekedar Formalitas paksaan?


Bendera merupakan salah satu identitas bangsa, didalam sebuah bendera tersirat dan tersimpan makna serta kisah bagaimana perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan sebuah negara. Nah, melalui upacara bendera yang diselenggarakan di sekolah-sekolah lah penghargaan atas perjuangan para pahlawan kita terlihat.


Melalui upacara bendera diharapkan kian mempertebal semangat kebangsaan, cinta tanah air, patriotisme, serta membangkitkan peran siswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perjuangan bangsa Indonesia memberi bukti betapa kemerdekaan adalah hal yang paling berharga dan dan sarat akan perjuangan. Dengan melihat itulah, upacara bendera seharusnya membuat generasi muda sadar dan menghargai perjuangan para pahlawan walau hanya dengan mengikuti upacara dengan khidmat.


Namun, dewasa ini bisa kita katakan banyak warga Indonesia malas melakukan upacara bendera, baik itu pegawai, siswa dan masyarakat umum. Bagi mereka upacara bendera hal yang sangat membosankan. Dan hanya bersifat seremonial.


Pelaksanaan upacara bendera dianggap biasa. Itu dikarenakan pola pikir generasi muda masa kini terhadap upacara bendera. berbeda dengan generasi jaman dulu. Kenapa?


Pada dasarnya upacara bendera adalah suatu kegiatan khusus untuk menghormati simbol-simbol negara, seperti: bendera, lagu kebangsaan, pahlawan dan lain sebagainya. Lebih dari itu upacara bendera sebenarnya sebagai cerminan nilai-nilai budaya bangsa dan merupakan ciri khas yang membedakan dengan negara lain.


Namun kita kehilangan makna peringatan kemerdekaan itu. Padahal kita tau bahwa kemerdekaan itu didapat dengan susah payah dengan penuh pengorbanan cucuran darah, keringat, air mata bahkan nyawa.


Saat ini semakin tinggi jenjang pendidikan dan semakin berkembangnya zaman,  semakin rendah pula minat dalam mengikuti upacara bendera, padahal upacara bendera notabene adalah bentuk penanaman kesadaran berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.


Pembahasan mengenai upacara bendera yang dihadapi masyarakat saat ini.

1. Zaman kita SD setiap hari Senin kita berseragam lengkap, baju rapi ditambah dasi dan tak lupa topi, saat bendera dikibarkan kita akan dengan hikmat menatap bendera dengan menyanyikan lagu Indonesia dengan mantap dan tegas. Tidak ada keluhan panas maupun bercandaan disela-sela upacara. Kita sangat menghargai upacara waktu itu, karena nilai-nilai pancasila dan patriotisme masih tertanam kuat dalam diri kita.

2. Memasuki zaman SMP. Berpanas-panas, dehidrasi, belum lagi kalau pidato inspektur upacara terlalu panjang, kadang kita terkesan tidak menghiraukan, ngobrol kanan kiri dan menggerutu kepanasan merupakan kejadian biasa yang dapat dilihat disetiap upacara bendera.


3. Zaman SMA, Upacara bendera yang seharusnya berjalan hikmat, dilakukan tanpa semangat karena alasan panas matahari yang cukup terik. Malahan saat ini banyak individu yang mengikuti upacara bendera hanya sekedar demi kewajiban untuk  mengisi absensi. Belum lagi keluhan karena sepatu upacara harus hitam polos, itu terlihat tidak keren dan sebagainya, alasan klise remaja zaman sekarang.


4. Bukan itu saja banyak siswa yang lebih memilih tidak mengikuti upacara bendera dengan bersembunyi di kamar mandi atau pojok-pojok ruang kelas. Banyak alasan kenapa mereka melakukan itu, alasan panas lah, berkeringat, takut pingsan, upacara membuang-buang waktu dll.


5. Lain lagi upacara bendera di kalangan mahasiswa. Mungkin mahasiswa sekarang akan melaksanakan upacara bendera 1x dalam setahun bahkan tidak sama sekali. Bagaimana tidak saat ini di Universitas tidak ada kebijakan tentang adanya upacara bendera hari senin yamg biasa diadakan di jenjang sekolah terdahulunya (SD, SMP, SMA). Kalaupun ada mungkin hanya upacara kemerdekaan itupun jika mereka mengikutinya. Hal itu mengakibatkan semakin lemahnya semangat nasionalisme yang terdapat di lingkungan Universitas.


6. Nah berbeda lagi dengan upacara bendera para pegawai instansi. Saat upacara bendera banyak pegawai instansi hanya menganggap acara besar ini sebagai acara rutin sehingga dianggap sudah biasa. Pelaksanaan upacara bendera bagi mereka mungkin hanya bersifat seremonial belaka atau mungkin mereka mengikuti upacara bendera untuk sekedar hormat atau lebih bisa dibilang "takut" pada atasan. Sekedar datang absensi dan melakukan upacara dengan ogah-ogahan. Sering kita melihat di TV para pegawai instansi mencopot sepatu hak tinggi nya dan duduk santai ditengah-tengah upacara dengan alasan capek dll. Kita melihat yang benar-benar melakukan upacara hanya yang berada di barisan terdepan. Seharusnya pada kesempatan seperti itu, para pegawai instansi yang notabene sudah dewasa lebih memahami dan menumbuhkan rasa nasionalisme dengan mengikuti upacara bendera dengan khidmat. Karena upacara adalah sebuah hari dimana kita mengormati dan menghargai para pejuang dan pahlawan yang berjuang, berkorban dan berperang demi memerdekaan suatu negara dari tangan penjajah.


7. Jika kita melihat alasan masyarakat umum. Mereka mempunyai alasan lain yaitu mengatas namakan pekerjaan, upacara tidak mempunyai pengaruh dengan kehidupan sehari-hari, tidak punya waktu dan berbagai alasan lainnya.


8. Alasan kemiskinan. Banyak orang berkata "Jangankan memikirkan upacara bendera, untuk mencari makan sehari-hari susahnya minta ampun". Miris.


Bila dibandingkan dengan dulu. Dulu upacara bendera dapat berlangsung dengan sangat khidmat karena masyarakat dulu, yang pernah mengalami betapa beratnya memperoleh kemerdekaan, sangat bangga sekaligus terharu ketika melihat bendera kita berkibar. Bisa dibayangkan upacara jaman dulu sangan berkesan, itu sangat berbeda dengan saat ini.


Bila kita melihat kesisi kota besar kini rasa nasionalisme kian memudar karena banyaknya faktor-faktor.

Faktor lingkungan, ekonomi, sosial, politik, bahkan agama yang baru-baru ini santer terdengar. Yaitu "upacara bendera dikatakan musrik" KLIK

Padahal bila kita melihat lebih jauh. Saat ini masih dapat terlihat segelintir para pejuang veteran yang masih tersisa. Dari situ kita dapat pelajaran bahwa dengan kondisi yang renta mereka dapat berdiri tegak sambil menghormat bendera merah putih dengan penuh semangat dan rasa bangga. Bahkan mereka akan semangat bila kita ingin mendengarkan cerita masa mudanya, mereka akan menggebu-gebu menceritakan masa mudanya dulu yang sangat menjunjung patriotisme. Mereka tidak menuntut apa-apa.



Lalu kenapa pemikiran masyarakat sekarang berbeda dengan yang dulu ? Apakah mungkin karena masyarakat sekarang tidak mengalami apa yang dinamakan zaman penjajahan, mereka jadi tidak tahu bagaimana rasanya berjuang ?





Atau karena di sini adalah Indonesia mereka menganggap bendera Indonesia berkibar adalah hal yang lumrah ?

Atau karena kecanggihan tekonologi sehingga upacara bendera klasik itu tergeser perannya ?
Atau karena penanaman kesadarn individu yang kurang mengahargai jasa pahlawan ?
Atau karena peran orang tua, lingkungan seta sekolah yang kurang memberikan arti penting upacara bendera, sehingga mereka lebih melihat upacara bendera sebagai kegiatan paksaan yang melelahkan ?
Atau karena mereka sudah tidak cinta Indonesia ???

Saya pernah membaca sebuah artkel tentang masih adanya sisa-sisa semangat nasionalisme upacara bendera. Semangat nasionalisme disuatu daerah pedalaman. di puncak Gunung Mbeliling yang berada di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.


"Jauh di ketinggian 1.312 meter di atas permukaan laut, upacara Hari Kemerdekaan RI ke-67 digelar. Upacara yang tidak kalah khidmatnya ini baru pertamakalinya digelar di puncak Gunung Mbeliling yang berada di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat pagi 17 Agustus 2012.


Vep kecil mendapat tugas membawa bendera yang sudah diikatkan di tongkat kayu dari kaki gunung hingga ke puncaknya. Waktu yang ditempuh dari Kampung Rangat, Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling menuju puncak gunung menempuh waktu 3 jam perjalanan. Jaraknya sekitar 6 kilometer.

Vep sambil membawa bendera merah putih berjalan menerobos jantungnya hutan Flores. Vep berjalan bersama puluhan warga yang akan mengikuti upacara di puncak gunung. Semua berjalan penuh semangat. Orang dewasa dan anak-anak.

Lelah berakhir lega saat bendera dan peserta upacara menyentuh puncak. Pengibaran sang saka merah putih akan segera dilakukan.


Upacara dipimpin langsung putera kepala suku Dalong. Masyarakat yang lain mendapat peran masing-masing mulai dari pembacaan teks Pancasila, Proklamasi dan pembacaan UUD 45. Semua dibawakan warga yang sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani.


Upacara ini tak kalah khidmatnya dengan yang digelar di Istana Negara. Tali bendera untuk mengerek bendera menggunakan tali rotan mentah. Kostum peserta upacara sederhana layaknya kostum harian petani; kain sarung dengan parang kerja di pinggang. Sang merah putih pun berkibar gagah di atas puncak gunung Flores bagian barat itu."


Dari cerita diatas kita sedikit tau makna upacara bendera yang sebenarnya. Kenapa seorang vep kecil rela menuju puncak gunung menempuh waktu 3 jam perjalanan dengan jarak sekitar 6 kilometer. Rela berjalan menerobos jantungnya hutan Flores. Ya itu karena menurut tokoh masyarakat Dalong upacara pengibaran bendera baru pertama kali ini dilakukan.


 Dan kenapa dilakukan Puncak Mbeliling, itu karena disana ada jejak perjuangan gerilya pada zaman perjuangan dulu. Tujuan upacara bendera ini adalah untuk mengenang kembali jasa-jasa pejuang Manggarai melawan kolonial.


Upacara bendera ini juga dihari oleh belasan pekerja media lokal dan wisatawan asing. Itu mebuktikan betapa istimewanya makna upacara bendera di masing-masing negara.


Pemandangan di puncak Flores itu sungguh mengagumkan.

Sama seperti dulu, upacara bendera zaman dahulu juga tak kalah mengagumkan ada banyak cerita dari para veteran dan kakek nenek kita di jaman dulu di saat bendera merah putih dinaikkan. Di saat itu pula beberapa pengendara motor dan pejalan kaki yang melintas di depan lapangan sekolah berhenti, mereka ikut hormat dan menyanyikan lagu dari luar pagar. Dan yang mengagumkan beberapa diantaranya adalah orang-orang tua yang sudah ringkih. Itu membuktikan bahwa betapa hebatnya makna upacara bendera itu.


Di zaman modern seperti sekarang ini, rasa nasionalisme sudah sangat jarang terlihat. Tidak seperti rasa nasionalisme yang dimiliki para pahlawan saat dulu berperang untuk kemerdekaan negara kita. 
Kita sebagai warga negara merdeka selayaknya mewarisi semangat para pejuang kemerdekaan itu.
Sehingga upacara tersebut tak lebih dari sekedar formalitas dan bahkan bukan merupakan sebuah paksaan. Bung karno sendiri mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Bagaimana kita bisa menghargai pahlawan jika ternyata dalam setiap upacara saja kita tidak menghargainya, salah bila menganggap satu jam berada di halaman sekolah itu sebagai bentuk formalitas yang melelahkan. 
Dengan upacara bendera bentuk penanaman kesadaran berbangsa, bernegara dan bermasyrakat sudah tercermin di dalam kehidupan nyata kita. 
Jangan sampai semangat patritisme kita dalam melaksanakan upacara bendera guna mengenang jasa para pahlawan dikalahkan dengan robot "LAGI"

Rabu, 17 April 2013

SEKOLAH PARA BINATANG

Ini nih artikel KEREN. Baca-renungkan-hayati-bertindak ! (


 SEBUAH RENUNGAN UNTUK PARA ORANG TUA, GURU dan PETINGGI NEGERI 




Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia.Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.


Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan MenyelamMengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak


Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu;


Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.


Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu


.Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.


Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.Lain lagi dengan


Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.


Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.


Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.


Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam


.Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.


Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.


Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya;perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya.


Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah


.Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut.


 Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..


Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. 


Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing.Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.


Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?


Keluarga Indonesia yg peduli pendidikan anak bangsa,


Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya.


Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.


Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa.


Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga.Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini...?


1. Sistem yang tidak menghargai prosesBelajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir

.

2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menhafal bukan belajar dalam arti sesunguhnyaApa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. 


Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. 


Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan.Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja.


Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia.


Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap.


Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis


.3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilaiNilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa


Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).


Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya.Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang.Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.


Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?


Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.


Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..?


Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?


Jadi wajar saja; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian


.4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-bedaSiapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal.Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya. 


Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.


Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda.Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. 


Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam.


Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut


5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidikSekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.


Apa beda mendidik dengan mengajar...?


Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.


Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.


Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Panca Sila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan.


Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Panca Sila dsb.


Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).





Jadi wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.



Mari kita renungkan bersama !